" Kafir Kuasai Bank Syariah " Akad Bank Syariah Tidak Mungkin Bisa Syariah

Home / Umum / ” Kafir Kuasai Bank Syariah ” Akad Bank Syariah Tidak Mungkin Bisa Syariah

” Kafir Kuasai Bank Syariah ” Akad Bank Syariah Tidak Mungkin Bisa Syariah

Cyber Sizu " Kafir Kuasai Bank Syariah " Akad Bank Syariah Tidak Mungkin Bisa Syariah " Kafir Kuasai Bank Syariah " Akad Bank Syariah Tidak Mungkin Bisa Syariah syariah

DISCLAIMER:

Artikle ini ditulis bukan untuk menyalahkan pihak tertentu, melainkan untuk memberikan pencerahan pada masyarakat yang sedang ragu tentang ke syariah an dari konsep perbankan.

Mohon tidak menggunakan artikle ini untuk sumber perdebatan, gunakan secara bijak untuk belajar dan menerapkan isinya apabila pembaca meyakini sesuatu.

 

Menjawab kebingungan masyarakat muslim tentang halal haramnya bank, dan banyaknya pertanyaan yang saya terima baik dari seminar 30 Hari Bebas Hutang, Telepon, email, dan social media. Maka saya menuliskan analogi Syariah di artikle ini berdasarkan data yang saya miliki.

Bagaimana mungkin bank (konsep kapitalis) bisa dipadukan dengan konsep syariah (islam)?

Begitulah pertanyaan yang selalu muncul di benak saya sejak awal mempelajari kehalalan dari konsep perbankan.

Kali ini saya akan mengangkat konsep mudharobah dan mengungkap kejanggalan dari penerapan mudharabah di setiap bank syariah di Indonesia. Karena Mudharabah ini terkesan sangat dipaksakan.

Screenshot_3 " Kafir Kuasai Bank Syariah " Akad Bank Syariah Tidak Mungkin Bisa Syariah " Kafir Kuasai Bank Syariah " Akad Bank Syariah Tidak Mungkin Bisa Syariah Screenshot 3

QS. Al-Baqarah [2]: 275:

… وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا …

“… Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba …”

Dari firman Allah diatas kita sepakat bahwa riba haram dan jual beli halal.

Nasabah menyimpan uang di bank dengan akad menitipkan uang, yang mungkin untuk alasan keamanan. Bukan dengan akad Mudharabah (investasi bagi hasil).

apakah-bank-syariah-halal " Kafir Kuasai Bank Syariah " Akad Bank Syariah Tidak Mungkin Bisa Syariah " Kafir Kuasai Bank Syariah " Akad Bank Syariah Tidak Mungkin Bisa Syariah apakah bank syariah halal

 

Jadi menurut analogi saya..

Nasabah menyimpan (menitipkan uang) kepada Bank, kemudian Bank menginvestasikan.

Naa..

Masalah dimulai disini, karena perbedaan akad yang terjadi, maka nasabah tidak boleh mendapatkan keuntungan karena akan menjadi riba. Sedangkan keuntungan dan resiko dari investasi ditanggung oleh pihak bank, karena menggunakan uang tersebut.

Sewaktu-waktu diminta kembali oleh nasabah harus ada.

Ada pendapat pihak tertentu, yang mesti di revisi bahwa:

Rasulullah pernah melakukan akad mudharabah dengan Siti Khadijah, untuk modal berdagang membawa barang ke Syam. (benar)

Tapi kalau akad mudharabah Siti Khadijah dengan Rosullullah, disamakan dengan akad mudharabah bank syariah dengan nasabah (kredit) tentu sangat berbeda.

Mengapa?

Karena jelas-jelas Siti Khadijah menggunakan uang sendiri, bukan uang nasabah Siti Khadijah.. (jelas beliau tidak mengumpulkan uang masyarakat)

Cerita diatas, murni investasi bagi hasil, hanya ada dua pihak.. yaitu pemilik modal dan pengusaha yang bekerja sama.

Kalau sekarang diplesetkan menjadi “Pemilik Modal –> Bank (Konsep Kapitalis) –> Pengusaha” .

Memadukan kedua konsep ini tidaklah mudah.. dan kisah mudharabah antara Rasulullah dan Siti Khadijah tidak relevan jika dijadikan sumber atau acuan peng halalan bank syariah.

Apalagi digunakan sebagai acuan untuk membuat fatwa.

Disinilah muncul awal mula RIBA dalam bank syariah yang tidak akan bisa di syariah kan, kecuali dengan pembenaran.

Kedua akad yang dijadikan satu inilah yang memicu timbulnya riba:

  • Akad titip (wadi’ah) yang digunakan bank sebagai sumber modal, harus bebas dari resiko kerugian. Kapanpun nasabah menariknya maka wajib diberikan tanpa ada penambahan maupun pengurangan.
  • Jika terjadi resiko rugi dalam menginvestasikan modal, maka bank juga mengalami kerugian, dan munculah sistem denda yang diplesetkan menjadi istilah (ganti rugi).
  • Mudharabah adalah sistem bagi hasil, untung dibagi bersama begitu juga dengan rugi. Bank menerapkan bunga yang diplesetkan menjadi istilah bagi hasil. Sebenarnya bagi hasil bank adalah persentase dari modal, bukan benar-benar bagi hasil dari keuntungan atau kerugian bisnis, jadi hal inilah yang jelas-jelas riba.
  • Bank menerapkan jaminan (sertifikat) untuk mudharabah, menurut saya ini menyalahi aturan karena mudharabah yang sebenarnya bukan hutang. Jadi tidak perlu adanya jaminan apapun, dan berdasarkan tolong menolong. Sewaktu melaksanakan mudharabah Siti Khadijah juga tidak menyimpan sertifikat (jika cerita tersebut yang dijadikan dasar mudharabah maka SALAH BESAR).

Screenshot_1 " Kafir Kuasai Bank Syariah " Akad Bank Syariah Tidak Mungkin Bisa Syariah " Kafir Kuasai Bank Syariah " Akad Bank Syariah Tidak Mungkin Bisa Syariah Screenshot 1

 


 

Kesimpulan saya:

Jika bank syariah murni menggunakan konsep syariah, maka akan timbul kerugian secara finansial, karena dasar dari akad mudharabah adalah pertolongan atau sukarela bukan sekedar mencari keuntungan.

Hal diatas menunjukan ketidak mungkinan menerapkan dua konsep Syariah (berdasar pertolongan) dan Kapitalis (berdasar komersil / keuntungan) karena dua hal tersebut bertolak belakang.

Pemahaman syariah saat ini memang berbeda-beda, maka saya dan beberapa pihak yang percaya, memilih untuk tidak menggunakan kredit perbankan baik untuk permodalan usaha maupun pembelian.

Penutup:

Sekali lagi artikel ini bukan ditulis untuk sumber perdebatan atau mendiskreditkan pihak tertentu, hanya untuk mengungkap fakta bagi pembaca yang percaya.

Semoga bermanfaat

Sumber: Arli Kurnia

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

GIF89a!,D;